Dari TK
sampe SMP, aku disekolahkan di Bintang Laut (ini nama sekolah lho..) . Bintang
Laut adalah sekolah swasta yang mayoritas siswanya bersuku Tionghoa (beragama
Budha maupun Konghuchu), Batak (beragama Kristen), ada juga beberapa suku Melayu
serta Jawa (contohnya aku) yang beragama Islam. Di sekolah ini, kami mempelajari
agama Katolik. Bagiku hal ini tidak terlalu masalah, tapi kenyataannya banyak
yang heran kenapa aku memilih sekolah di sini toh yang lainnya kan banyak. Jika
kita sekolah karena benar-benar ingin mendapatkan ilmu pengetahuan, mau sekolah
dimana aja tetap sama. Yang berbeda paling teman-teman, guru, fisik sekolah,
MP, kegiatan, dan seragamnya. Nah waktu gue SMP, ada namanya ‘unggulan’ dan
ekstrakurikuler. Unggulan ini meliputi pelajaran B.Indonesia, B.Inggris,
Matematika, IPA. Kebetulan waktu SMP banyak waktu luang, jadi aku ikut unggulan
Matematika dan B.Inggris (karna max 2, hehe). Nah dimana-mana yang namanya
ekstrakurikuler itu mengasyikkan bukan. Hampir semua ekstrakurikuler yang ada
di sekolah ini (bulutangkis, voli, basket, tenis meja) aku ikuti. Unggulan dan
ekstrakurikuler ini digabung dengan kakak dan adik kelas, jadi kegiatan ini
banyak warnanya, hehe. Kalau di Bintang Laut ini, bisa dikatakan kami mengenal
satu sama lain. Setidaknya tau nama. Apalagi anak-anak yang sering ikut
olimpiade (mata pelajaran maupun olahraga), semua pasti kenal sama dia (sp :
yang sering nyumbangin piala sekolah). Oya, Bintang Laut juga punya drumband.
Pernah aku coba untuk ambil bagian jadi anggota terompet drumband, mungkin
lebih tepatnya aku pengen bisa main terompet. Namun hanya bertahan hingga
beberapa kali latian. Ternyata susah banget, mesti tepat ngatur nafas dan
tiupan, huh~ . Hem, tiap sekolah pasti punya perpus kan? Jangan bilang enggak! Setidaknya
bagi sekolah yang peduli ama buku-buku. Nah, aku paling hobi ke perpus. Aku
juga punya teman bareng ke perpus, Wulandari, Widiana, Sinta, dll. Sesudah
ngeletakin tas di kelas waktu nyampe sekolah, tiap istirahat kalo gak ada
urusan, kami langsung terbang ke perpus. Sampe-sampe kalo ada yang nyariin,
pasti uda tau kalo posisi aku saat itu di perpus, haha. Keadaan perpus waktu itu
sangat memprihatinkan menurutku. Banyak buku lama yang tak terjamah. Mungkin
minat baca siswa saat itu masih minim dikarnakan kantin lebih menggoda daripada
perpus. Kalau lagi libur, kami sering datang ke perpus jika sekolah buka. Bantu
beresin buku-buku perpus, bersihin perpus, menata perpus dengan posisi yang
lebih nyaman. Kan kasian kalo ibu yang jaga perpus cuma seorang diri menjaga
hingga membersihkan perpus. Jadi kangen perpus :’) dulu. Oke, nyambung lagi
cerita di sisi lain. Dari kelas 1 SMP, transportasi yang aku gunakan yakni
sepeda. Ada juga cerita suka duka cuka buka muka luka zuka, hehe. Biasanya kalo
aku belum siap, temenku Wulan pasti uda nongol duluan nunggu di depan rumah. Jam
terbang kami biasanya sekitar pukul 6.30 atau 6.30 lebih dikit. Kami memiliki
aturan non formal yang ditulis dari hati ke hati, siapa duluan siap maka dia
yang jemput duluan. Mungkin kalo di itung-itung, lebih banyak Wulan yang duluan
siap daripada aku, yaa jelas karena aku mesti sarapan dulu sambil stay bentar
nonton SpongeBob, hahah. Kami naik sepeda masing-masing, kadang kalo salah satu
ban sepeda kami bocor, yang gak bocor ‘wajib’ memberikan tempat duduk gratis di
belakangnya. Beberapa kali kami kehujanan bareng, dorong salah satu sepeda dari
kami yang bocor sampe mendapatkan penampakan sebuah bengkel sepeda dan menunggu
sepeda ditambal, memarkirkan sepeda berdampingan. Oya, aku dan beberapa temanku
sering jajan sosis di depan sekolah secara diam-diam. Karena sekolah melarang
siswa jajan di luar area sekolah. Sungguh tidak adil bukan, jika ketauan maka
ia akan dihukum keesokan harinya. Beruntung sampe sekarang tukang jualan
sosisnya masi ingat sama aku (hei apa untungnya?)







0 komentar:
Posting Komentar