Bercerita mengenai olimpiade, aku pernah ikut. Mungkin salah satu kemujuran yang kudapat sepanjang hidup, waktu itu aku ditunjuk guru olahraga, Pak Gabe untuk melengkapi tim senam dari Bintang Laut. Ada kak Desy, kak Herna, Angga, Imelda, Royben, Alven dan aku. Nah aku bengong o.o . Kenapa orang sependekku bisa ditunjuk. Waktu H-1, kami uda siap untuk menggoyang halaman Dinas Pendidikan, haha. Yang membuat semangat, jika kami juara 1, kami mendapat uang saku (itu uda pasti), piala, dan menjadi perwakilan kabupaten untuk bertanding di Pekanbaru. Tepat hari H (gue uda lupa kapan tepatnya), kami berkumpul ke sekolah dengan seragam untuk bertanding. Otomatis ini membuat kami tampak begitu berbeda dari yang lain. Teman-teman dan guru juga memberi support yang membuat kobaran semangat kami berkibar di atas tiang bendera. Singkat cerita, kami bertanding dan harus mengalahkan SMP 1, SMP Wahidin, SMP SetiaBudi, SMP Methodist, SMP 2, dan esempeesempe yang lain. Kami mendapat nomer urut 6 yang langsung dipasang dibaju depanku. Ternyata, kami menang dan akan membawa nama Rohil ke tingkat SMP. Setelah dilatih beberapa hari supaya matang, kamipun berangkat ke Pekanbaru. Kami menginap di Hotel Asean beserta kelompok dari SMAS Wahidin & SDN 006. Kami mendapat dua kamar, untuk cewe dan cowo terpisah. Sesudah makan malam di restoran, kami membongkar perlengkapan yang akan dipakai buat lomba. Ternyata punya kami ketukar dengan punya anak SD, pantesan kamar sebelah ribut dari tadi, haha. Pembimbing mereka menghampiri kami dan kami pun menukarnya. Langsung saja ke jalan pertandingan ya. Sewaktu menunggu urutan, rasa deg-degan, takut salah atau lupa gerakanpun menghantui kami. Melihat perwakilan dari daerah lain bagus-bagus, mulai memudar rasa optimis kami. Tiba saatnya kami menunjukkan penampilan terbaik kami, dengan didukung oleh sesama masyarakat Rohil. Bayangkan rasanya berada di posisi paling depan? Harus senyum tiap detik di depan para juri. Udah dibayangin? Kalo belum coba lagi lain waktu ya. SIALNYA, setengah jalan malah mati lampu. Kalo gak salah (berarti benar), kami udah memasuki tahap pendinginan. Hampir setengah jam menunggu, dan akhirnya hidup juga, dan karna itu kami gak mendapat tempat di hati para juri L. Sesudah pengumuman, kami tidak ada yang mendapatkan juara, yah mungkin bisa dijadikan pengalaman yang berharga. Oya, ada kejadian unik yang aku alami di kamar. Waktu kami mau tidur, Kak Desi dan Kak Herna satu tempat tidur, Imelda di kasur tengah, dan aku di kasur pinggir sendirian karna kakak pembimbing lagi ada rapat katanya (sok sibuk, haha). Waktu itu mereka yang duluan memancing cerita” nyata tentang makhluk gaib. Mereka juga menakut-nakutiku karna tidur sendirian (kirain mereka aku gak takut apa?). nah, lagi asik-asiknya cerita (bisa dibilang lebih asik nakutin aku) tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Apa yang ada di pikiran kamu? Yaa, bukan itu yang aku pikirkan, haha. Sebuah siluet cahaya dari kamar mandi mengenai separuh wajahku, dan dengan gaya seperti hantu jelmaan aku pun menoleh perlahan-lahan kepada mereka. Mereka pun berteriak ketakutan, haha. Ya siapa suruh uji nyali tengah malam =p. Merekapun menganiayaku secara perlahan. Mencubit dan memeriksa kakiku, apakah masi ada? Hoho. Itulah cerita mendekati singkat yang kukupas dari salah satu ingatanku hingga saat ini J
Langganan:
Postingan (Atom)






