Berbicara
mengenai pindah rumah, mungkin ada suka dan duka bagi pribadi masing-masing
yang mengalaminya, misalnya aku. Yang ku tau, kami udah pindah rumah tu 2 kali.
Rumah pertama yang sekaligus menjadi tempat pertama kaliku menghirup udara di
dunia ini, terletak di jalan SGB (bagi yang tinggal di Bagansiapiapi mungkin
tau). Nah, kira-kira waktu umurku ±4 tahunan, kami pindah rumah ke Jalan Bakti.
Rumah ini lokasinya lumayan strategis, dekat rumah makan, dekat tetangga (ya iyalah,
haha), dekat sekolah yang sekarang, dan dekat-dekatan yang lainnya. Rumah ini
juga punya loteng yang dulu berfungsi sebagai kamar cadangan, namun malang
nasibnya yang sekarang beralih menjadi tempat jemuran baju :D haha. Tapi yang
namanya kehidupan, gak seru kan kalo gak ada yang gangguin. Nah, mungkin orang
tuaku setelah ±13 tahun berada di rumah ini, mulai merasa terganggu oleh
‘mereka’ (bukan sesuatu yang aneh yaa). Akhirnya setelah rumah baru kami siap
dibangun, kami beserta seperangkat barang-barang yang ada di rumah lamapun
dipindahkan. Sebenarnya udah beratus-ratus kali nunjukin ekspresi melas, tapi
ortu tetap ngeh pindah rumah juga. Ya mau gimana lagi, masi numpang ama ortu :s
. Proses pemindahan ini cukup menyiksa saudara-saudaraku sekalian. Setiap aku
pulang sekolah, pasti ada aja barang yang lenyap tiba-tiba. Dan entah berapa
bulan kami tidak minum air dingin karena kulkas pertama kali dipindahkan, cukup
menyedihkan. Untung kamar mandi gak bisa dipindahkan, hehehe.. Sampai pada hari
terakhir, kira-kira Juni 2011 rumah benar-benar kosong dan kamipun pamit kepada
segenap tetangga. Kami pindah ke daerah Parit Sicin, masih kawasan
Bagansiapiapi tapi lumayan jauh dari pusat kota Bagan. Dari sinilah dimulai
hari-hari yang melelahkan dan semua suasananya berbanding terbalik dengan rumah
lama. Dan akhirnya, kata-kata yang selalu terlontar adalah “AKU KANGEN RUMAH
LAMAKU”.







2 komentar:
sodih cito koo.,
terharuu., (˘_˘٥)
rumah rumah rumah
Posting Komentar